Foto Berita
Industri & Diklat
Credit:

Pengrajin Sumbar Harus Perbaiki Kualitas Produk

Senin, 30 Mei 2016 • 09:40 WIB
775 Views

BATUSANGKAR, HALUAN — Para petinggi Kabupaten Tanah Datar Luhak nan Tuo menjamu rombongan pengrajin dari Negeri Kelantan Malaysia di bawah pimpinan YB Mumtaz Binti Md Nawi, Rabu (23/3). Mereka berharap pengrajin asal Sumbar bisa memperbaiki kualitas produk sehingga sesuai kebutuhan pasar.

 

YB Mumtaz Binti MD Nawi menyampaikan rasa terima kasih dan peng­har­gaan kepada pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang telah bersedia me­nerima rombongan serta mendapat jamuan yang luar biasa.

Ia juga menjelaskan, rombongan yang dibawa adalah pengrajin terbaik wanita dengan berbagai keterampilan khususnya menyulam dan bordir. Ke­ahlian yang didapat saat ini berasal dari peserta yang sengaja dikirim untuk be­lajar menyulam, bordir dan sejenisnya di Sumbar be­berapa tahun silam dan kemudian dikembangkan saat kembali ke Kelantan.

“Kami akui kualitas bor­dir di sini (Sumatera Barat-red) sangat bagus dengan berbagai corak dan motif yang dimiliki dan kami ha­rap kerjasama kedua bangsa semakin baik,” tuturnya.

YB Mumtaz juga ingat­kan dengan telah be­r­la­kunya Masyarakat Ekonomi ASEAN, produk-produk Thailand dan Vietnam telah masuk ke Malaysia khu­susnya sektor tekstil.

“Kami ingin tetap me­makai produk Sumatera Barat khususnya mukena, yang kualitasnya di atas Thailand dan Vietnam, tapi kami berharap produsen dapat memperbaiki ukuran mukena agar sesuai dengan kebutuhan konsumen di Malaysia dan ini telah di­ako­modir oleh produk Viet­nam dan Thailand walaupun secara kualitas masih kalah dari produk Sumatera Ba­rat,” pesannya.

Bupati Irdinansyah Tar­mizi didampingi Wakil Bu­pati Zuldafri Darma, Ketua DPRD Anton Yon­dra, Se­kre­taris Daerah Drs Har­diman dan beberapa kepala SKPD menyambut langsung kedatangan rombongan yang berjumlah 50 orang pejabat yang setingkat Wakil Gubernur bidang wanita, keluarga dan kebajikan Ne­geri Kelantan.

“Tidak salah tuan dan puan datang ke Tanah Da­tar, daerah ini merupakan pusat kebudayaan Mi­nang­kabau yang pada masa ja­yanya mempunyai wilayah yang luas hingga sampai ke ne­geri Sembilan M­a­lay­sia,” sambut Irdinansyah.

Irdinansyah me­nye­but­kan budaya Mi­nangkabau sangat erat kaitan dengan budaya Melayu, sehingga tidaklah jauh berbeda adat budaya keduanya ditambah lagi kesamaan agama yang dianut.

“Hari ini masih dapat kita lihat bukti Tanah Datar sebagai pusat adat dan bu­daya Minangkabau pusek jalo pumpunan ikan, dengan adanya Istano Basa Pa­ga­ruyung, Istano Silinduang Bu­lan, Nagari Tuo Pa­ria­ngan dan peninggalan ber­sejarah lainnya seperti batu ba­surek, batu batikam, pra­sasti Adityawarman, rumah adat Kampai Nan Panjang di Nagari Balimbiang Ke­ca­matan Rambatan, Balairung Sari Tabek dan lain seba­gainya,” tambahnnya.

Pada kesempatan itu, Irdinansyah juga me­pa­par­kan kegiatan pacu jawi yang telah mendunia. Alek ini telah menjadi kalender tetap fotografer profe­sio­nal internasional me­ngam­bil momen untuk d­i­aba­dikan.

Di akhir acara ditutup dengan saling tukar cindera mata antara pemerintah Kabupaten Tanah Datar dengan Pemerintah Negeri Kelantan serta penampilan atraksi  tari piring yang memukau oleh sanggar Pu­saka Sakti di bawah asuhan David. (h/emz)

Berikan Masukan